Google Transtools

English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Buku Tamu

Tampilkan postingan dengan label Liputan Khusus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan Khusus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2012

Jika Negara Tanpa Trotoar

Seberapa sering kau menggunakan Trotoar yang disediakan khusus bagi pejalan kaki? Dan bahkan banyak orang lebih senang turun ke jalan untuk menghindari hiasan trotoar.
Ya,… hiasan yang ternyata lebih membuat trotoar sempit dan sulit berpapasan dengan orang lain. Anggap saja itu bunga yang katanya hasil kerja kader wanita ataupun tanaman hias milik Pemda, tapi kenapa harus memakan banyak tempat di trotoar? Itu bagus, artinya sepanjang jalan nanti akan dipenuhi hiasan dan setidaknya lebih terlihat asri. Bagaimana mana denganmu? Pejalan kaki kini mau tak mau harus berjalan di aspal dengan alasan lebih cepat tanpa harus menunggu giliran ‘lewat’ saat saling berpapasan.


Trotoar Sangat Penting Bagi…

…kami, pedagang kaki lima yang tak punya lahan bisnis dipinggir jalan. Yang berjalan harus mengalah tatkala mereka membentangkan gerai diatas trotoar. Tak sedikit yang memajang barang bagus seperti sepatu, ikat pinggang, dompet, kaca mata, dan belakangan ada yang nekat memajang pakaian dalam. Ini bisnis, dimana kesempatan itu datang dan siap menampung uang sebelum Pamong Praja datang. Nyatanya, dagangan di sekitar trotoar memang menarik simpati kalangan menengah & bawah, dan justru itu jumlah mereka kini kian bertambah.
Bukan hanya trotoar, bahkan sebagian jalan terkadang di buat gerai di pagi hari. Ya,… pastinya kita tak akan terkejut melihat pedagang kaki lima yang nekat membuka dagangannya di sebagian badan jalan, pasar pagi.
“Pamong Praja! itu urusan belakang, yang penting dagang dan gusur menggusur, itu soal nanti!”

Trotoar, Semua Boleh Pakai

Menerjang macet di pagi hari yang melintasi trotoar dengan sepeda motor, tak heran kan? Dan memang itu sudah menjadi hal biasa karena jumlah pejalan kaki pun jauh lebih sedikit dibanding pengendara motor. Seperti di sudut kota ini, pejalan kaki identik dengan anak kost yang berada di seputar kampus dan sering memenuhi trotoar. Di pagi hari? Jangan harap, mereka terkadang tersendat dan harus berjuang melawan ramainya motor di trotoar.
Jangan heran kalau menemukan kenderaan di trotoar, itu bukan pameran ataupun undian walaupun tepat berada didepan sebuah Bank. Sepertinya lahan parkir di negara ini tidak cukup luas hingga harus mengusur pejalan kaki turun kejalan. Seperti itu pula tempat sampah yang di letakkan tepat berada di trotoar yang jelas akan membuat pejalan kaki turun kejalan dengan sendirinya.


Lain hal dengan badan usaha yang juga ikut menggunakan trotoar sebagai salah satu daya tarik mereka. Anggap saja sebuah banner & iklan yang dipasang dari pagi hingga sore, atau sebuah cafe yang terang terangan menggelar meja & bangku tepat berada diatas trotoar. Bahkan mereka terlihat sangat konyol ketika membuat dinding pembatas di trotoar, ya… dinding pembatas yang lebih mirip sebuah pagar.

Pentingkah Trotoar Bagimu?

Secara tak langsung negara ini hampir tak memiliki trotoar dengan beberapa kasus diatas. Yang ada difikiran saya bahwa di banyak negara, trotoar merupakan fasilitas umum yang vital dan tak bisa dianggap sebelah mata. Tak heran jumlah kenderaan semakin meningkat karena tempat melangkahkan kaki pun sudah sangat sulit. Kini, apakah kita masih berjalan di trotoar atau memang lebih senang turun ke jalan dengan resiko kecelakaan? Jalanan semakin ramai dan tidak seharusnya kita turun ke jalan.
Siapa yang salah? Bukan mereka yang duduk, tapi kita memang tak pernah ‘cerewet’ ketika pihak lain mengambil keuntungan di trotoar.

Keselamatan Pengendara Bergantung Pada Iklan

Inilah kota, dimana semua aktivitas dan kesibukan yang dimiliki mempengaruhi dan bergantung satu sama lain. Seperti halnya iklan yang juga bergantung pada pembacanya, tidak dilirik maka produk tidak akan dikenal. Usaha keras dalam menjaring pelanggan membuat developer iklan semakin kreatif dalam menciptakan iklan terbaik walaupun itu bisa berakibat buruk bagi pembacanya. Untuk itu, bagi Anda yang suka membaca dan melirik iklan di jalanan berhati hatilah ketika jatuh cinta dengan banner tersebut.


Seorang pengendara motor mengalami luka kritis disebabkan menabrak bagian belakang angkutan umum. Pengakuannya hanya karena sebuah iklan di jalan, iklan dengan tampilan seksi membuat pria ini lupa menginjak rem kenderaannya. Peristiwa ini memang tidak aneh, saya sendiri juga sering melirik iklan yang berserakan dijalan. Apalagi iklan tersebut menggiurkan dengan banner besar melintas di sepanjang jalan. Belum habis melirik iklan itu banner yang lain menunggu didepannya, sepanjang jalan pemandangan sudut kota dipenuhi iklan yang menggiurkan. Bagi mereka yang hobi berbelanja tentunya tidak akan melewati penawaran terbaik.

Dunia Iklan Tidak Beretika

Jalanan yang dipenuhi iklan bisa membuat tata kota semakin menarik, tapi dengan terlalu banyaknya iklan tata kota semakin jelek. Bahkan pohon peneduh di trotoar tertutup karena ukurannya yang sangat besar. Ada beberapa iklan tidak memiliki etika dan kesopanan, tidak layak untuk dilihat anak kecil. Developer menutup mata, yang mereka tahu bahwa iklan menarikdan bisa membuat penjualan client mereka meningkat.
Etika dalam beriklan tidak ada? Sebenarnya kalau pemerintah membuka mata untuk lebih menata iklan menjadi lebih sopan dan tertata rapi, setidaknya bisa membuat tata kota lebih menarik dan mengurangi resiko kecelakaan diatas. Iklan memang menambah kantong pemerintah melalui pajak tetapi bukan berarti etika iklan dikesampingkan. Bahkan beberapa tiang iklan yang ada kondisinya tidak layak untuk digunakan, kalau hujan deras bisa saja roboh dan berbahaya bagi pengendara.

Undang Undang Pornografi

Ribut ribut masalah pornografi saat ini hanya berada diseputar dunia internet dan televisi. UU pornografi didunia nyata seperti iklan belum terealisasi, padahal banner dijalanan dilihat secara umum dan tidak memiliki batas usia. Untuk mengakses internet ataupun menonton siaran televisi memerlukan perangkat koneksi yang terhubung dijaringan, pemerintah bersikeras untuk menutup konten pornografi didalamnya. Tapi untuk melihat konten seksi dijalanan cukup hanya melintasi kawasan yang penuh dengan banner dan penawaran luar biasa. Pemerintahan yang hebat, menutup mata didunia nyata dan ribut didunia maya. Pornografi didunia maya sebenarnya hanya perlu bimbingan dan arahan orang tua tentang penggunaan internet, tapi kalau seorang anak kecil melihat konten iklan atau banner yang tidak beretika, apakah matanya harus ditutup sepanjang jalan?

Lahan Parkir Gratis, Stok Terbatas!

Sekarang kita bebas mendapatkan lahan parkir gratis di manapun kalian suka, sekalipun di depan rumah dan ruko bisnis orang lain.
Apakah kalian pernah merasa kesal mencari tempat parkir yang jauh dari tempat tujuan? Semakin jauh, dan kaki pun terasa pegal menempuh jarak yang semakin tak karuan. Terang saja ini membuat kita emosi, apalagi mereka telah mematok lahan parkir yang memang bukan milik mereka.
Aku sempat merasa jengkel ketika seorang juru parkir (tukang parkir) dan sekuriti perkantoran mengusirku.
“Tempat parkir ini khusus bagi pelanggan kami, silahkan bergeser ke sana.”
Di tempat lain kenyataanya juga sama, dan kebetulan tempat parkir yang akan saya tuju sudah penuh maka tak ada pilihan lain selain meninggalkan kenderaan di depan perkantoran lain. Urusan ribut belakangan, yang penting kenderaan ter-parkir di tempat yang tak jauh.

Klaim Parkir Atau Kalian Dilarang Parkir

Negeri ini menyewakan jalanan umum untuk parkir khusus pelanggan perkantoran ataupun bisnis personal :P Apa kalian pernah mendengar adanya undang undang yang membebaskan kita untuk menggunakan fasiltas umum sebagai tempat parkir pribadi, ini jalan umum dan siapapun berhak parkir sekalipun di depan toko ataupun rumah kalian.


Bukan hanya perkantoran di foto ini, tapi kenyataan menyebutkan bahwa sepanjang jalan di jalur pusat kota di penuhi plang yang menegaskan dilarang parkir ‘hanya untuk pelanggan’. Anda tak punya kepentingan tak bisa berharap banyak meninggalkan kenderaan di depan ruko bisnis mereka. Lebih baik kalian membawa supir, rekan, atau diam diam menyelinap masuk kedalamnya kemudian keluar lagi hanya untuk mengambil tempat parkir yang tersedia.


Bahkan tak jarang sebuah lembaga pendidikan mengambil alih setengah badan jalan hanya untuk tempat parkir siswa mereka. Maklum lah, mereka ini kaum berduit yang bisa sesukanya menggunakan fasilitas umum. Macet di pagi, siang, dan sore hari, itu resiko Anda. Salah sendiri kenapa masih nekat melewati jalanan ini.

Kalian punya bisnis kecil seperti mobil van yang dipenuhi dagangan? Tentunya menggeser orang lain yang lebih dahulu mangkal di sepanjang pinggir jalan bisa berujung ribut. Ya, van dan roda tiga biasanya memenuhi lahan parkir di taman taman kota, dan sesekali pedagang kecil bisa menantang tawaran Anda. “Wanine piro???”
Lahan parkir saat ini menjadi bisnis yang menggiurkan, jadi jika kalian memiliki tempat strategis bisa berkolaborasi dengan tukang parkir mengumpulkan pundi pundi emas, sebelum pemerintah berubah fikiran dan mungkin tak akan merubah keaadaan. Dan satu lagi, kalian tak perlu berbangga hati dengan menunggangi mobil kilat sebagai alat transportasi yang sejuk jikalau tak mampu parkir. Lebih baik menaiki angkutan umum karena tarif parkir sekarang mahal apalagi butuh waktu berjam jam.

Bencana Banjir Dan Pentingnya Kanal

Setidaknya kota ini memiliki kanal untuk menanggulangi bencana banjir yang datangnya di musim hujan.
Apakah kotamu memiliki kanal untuk menanggulangi bencana banjir yang sekarang di waspadai karena hujan tak tentu datangnya dan sering tak berkesudahan? Tentunya, kota-kota kita tak hanya membutuhkan sungai yang kini menampung sampah dan limbah, kita sendiri memang tak sadar hingga harus membangun kanal demi pengelolaan DAS dan air berlebihan.
Jadi bagaimana? Masihkah sebagian besar warga kita sadar bahwa sampah memang sangat menyakitkan dan banjir merupakan musibah yang tak kenal waktu. Bukan hanya karena hujan, tapi secara tiba-tiba air di atas gunung turun seketika karena hutan tak lagi berseri.


Ada banyak kasus yang menyebabkan kota-kota kita mengalami bencana banjir, yang sudah umum di suatu tempat tak lain karena sampah. Dan bahkan sebuah pertambangan pasir dengan ‘bodoh’ nya meletakkan alat berat di tengah sungai. Sekejap saja hujan turun dan kayu menutupi lintasan air, banjir bandang tiba serta merta menenggelamkan alat berat dan hunian di sepanjang DAS.

Berlindung Dibalik Kanal Banjir

Dan justru beban yang ditanggung seorang petugas kanal lebih berat dibandingkan menjaga sebuah Bank. Betapa tidak, di kota-kota besar negara kita hidup di sepanjang DAS masih masih menjadi nominasi bagi kalangan bawah. Sama halnya ketika sebuah developer memilih DAS di tengah kota sebagai tempat hunian nyaman yang dibangun mewah. Bangunan mewah, tapi resiko dimasa mendatang tak bisa dipandang sebalah mata.
Dan petugas hanya seorang manusia yang bisa lalai, apa jadinya ketika banjir bandang tidak melewati kanal banjir? Seketika seorang petugas ‘baru saja membunuh puluhan orang di sekitas DAS’. Jadi, alasan membangun hunian di sepanjang DAS bukan sebuah jaminan dibalik bangunan kanal. Kita tak akan pernah tahu kapan bencana banjir itu datang.

Pemakaman, Tak Jauh Beda Dengan TPS

Manusia hidup dan kemudian mati, mereka dijauhkan dari pemukiman hingga tak beda dengan sampah.
Kira kira, seperti itukah gambaran sebuah makam? Mereka yang mati di tempatkan di sebuah pemakaman yang jauh dari pemukiman, apa bedanya dengan TPS (Tempat Pembuangan Sampah)? Hampir tak ada bedanya, bahkan sampah bisa menjadi nilai tambah bagi kaum kecil untuk mengais organik dan sampah daur ulang.

Mungkin pendapat itu hanya tersirat bagi mereka yang sinis dan tak percaya dengan kehidupan lain. Mereka mungkin berfikir ketika tubuh mereka mati dan bukan menjadi masalah untuk di bumi hanguskan ataupun dibuang daripada membuat dunia semakin sempit. Tapi ini masalah religi dimana seseorang mempercayai dan menghormati mereka yang telah mati.
Anda tau, bahwa jepretan ini nyata! Sebuah pemakaman kaum Tionghoa telah dijadikan tempat pembuangan sampah (TPS) bagi masyarakat setempat. Tak hanya itu, di lokasi ini juga tersedia pemakaman muslim yang mungkin juga berimbas sama. Jangan tanya saya seberapa luas lokasi pemakaman karena disini satu satunya pemakaman terbesar bagi kaum Tionghoa di sudut kota Medan.
Sampah itu berserakan, menumpuk disepanjang jalan pemakaman. Padahal larangan pembuangan sampah sudah diterapkan dan pernah dibatasi dengan sekat, tapi toh TPS tetap menjadi kenyataan. Apa yang terjadi karena tong sampah yang disediakan hampir tak ada hingga membuat masyarakat terpaksa harus mengurus sampah mereka sendiri. Ya, kita bicara soal pencemaran lingkungan.


Mayoritas penduduk lokasi ini bisa dikatakan muslim dan kristiani, hingga mungkin mereka berfikir bahwa pemakaman itu bukan suatu yang dianggap penting. Suatu hal yang bisa berimbas realitas sosial, saya tak melihat adanya ke-bhineka-an, ternyata kita ini ‘berebeda-beda tetap berbeda juga’. Apakah penting makam leluhur mu? Bayangkan bahwasannya pemakaman itu milik keluarga yang hanya dihiasi dengan taman taman sampah. Pemakaman itu lebih dulu berada disana selama berpuluh puluh tahun, hingga manusia membuat dunia semakin sempit.
Tak hanya sampah, pemakaman lain juga sering mengalami penggusuran hanya untuk menutupi nafsu duniawi. Dalam sekejap mereka telah diubah menjadi Mall dan pusat perkantoran.
Negara beragama, menganut Pancasila yang sebenarnya tak patut mengecap dirimu. Tak satupun norma itu melekat hingga membuat warna kulit sebuah perbedaan besar diantaranya. Semuanya? Tidak seperti itu, tapi ternyata lebih banyak dari kita tak menganutnya sama sekali. Kita ini rentan,…. rentan perang saudara, “Lo senggol, gua bacok!”
Dan mulai sekarang, kau harus mempersiapkan dimana pemakamanmu nanti. Seperti layaknya memilih perumahan yang sulit digusur hingga tidurmu nyenyak sepanjang tahun.

Rabu, 22 Februari 2012

Anak Jalanan Aset Negara-?

Anak jalanan, sebutan bagi pengamen ataupun pengemis yang meresahkan pengendara, dan sebagian orang menyebut pedagang lampu merah sebagai salah satu bagian dari mereka. “Apa yang berbeda? Pedagang terkadang berbuat sedikit memaksa kepada pengendara yang akhirnya menimbulkan argumen bahwa mereka tak jauh beda dengan anak jalanan lainnya.”
Kami hidup diantara aspal dan polusi kenderaan, jalanan telah membuka peluang kepada kami untuk meningkatkan nilai pajak.
Bukan kenyataan pahit tapi mungkin bagi mereka hanya sebuah lantunan hati ketika berdagang dibawah terik matahari. Dunia ini tak sesempit daun kelor, menurut mereka dunia ini lebih sempit dari apa yang kau fikirkan. Dan aku pun bingung, apakah hidup hanya untuk makan atau menikmati hidup hingga usiamu mati?

Aku Aset Negara

Menyebut dirinya sebagai pedagang nakal, artinya kita hanya memandang sebelah mata. Rani, sebutan bagi dirinya yang bermandikan keringat demi menghabiskan koran dagangan. Jangan sebut ‘Rani’ saat membicarakan tentang dirinya, dia lebih suka di sebut ‘She’ berusia 16 tahun, rajin menabung, akrab dengan aspal. Sekilas She adalah contoh dimana cercaan melanda anak jalan, tapi dengan niat yang tulus bahwa berdagang bukan dengan unsur pemaksaan. Menabung adalah salah satu harapan agar cita citanya menjadi seorang engineers dapat terlaksana.

Bangsaku Bukan Pemalas Melainkan Pekerja Keras

Berapa banyak rakyat kita yang memiliki pendapatan dibawah rata-rata? Ada lebih dari setengah jumlah penduduk kita sekarang yang memiliki pendapatan kecil. Apa pantas kita menyebut mereka pemalas? Atau memang gusti Allah belum membuka pintu rezeki bagi mereka.
Pemalas, sebagian dari mereka yang sukses menyebut orang-orang ini sebagai pemalas yang kurang giat dalam bekerja. Kalau saya balik bertanya ketika Anda gagal mendapatkan jabatan penting “Anda kurang berusaha, jangan menjadi pemalas”, pantaskah pertanyaan ini? Sama halnya ketika kita mengatakan mereka seorang yang pemalas, padahal sebenarnya mereka bekerja lebih dari delapan jam, melebihi jam kerja karyawan kantor. Ini yang disebut pemalas?

Profesi Mereka Bukan Pemalas


Pria ini seorang penarik becak bermotor yang selalu menunggu disimpang jalan. Bagi mereka yang melihatnya berpendapat bahwa dia hanya sekedar duduk dan menunggu penumpang datang, kenapa tidak berkeliling dan mencari? Alasannya mungkin karena irit bahan bakar atau menunggu pelanggan yang sudah menjadi tumpangan sehari hari. Tapi mereka bekerja mulai dari matahari terbit hingga hampir tengah malam, dan terkadang makan siang terlewatkan. Inikah yang disebut pemalas?


Pemuda ini mulai menajajakan dagangannya saat usai makan siang hingga tengah malam, artinya dia bekerja lebih dari sepuluh jam setiap hari di kaki lima.

Apapun kondisi cuaca saat itu tidak membuat pemuda ini menyerah dan dagangan tetap harus berjalan. Sesekali saya bertanya “Apakah saya sanggup jika menjalani pekerjaan ini?” Tentunya kita tak pantas menyebut mereka sebagai seorang pemalas.
Lalu, kepada siapa kata ‘pemalas’ pantas kita ucapkan?

Kaya Dan Miskin

Kaya dan miskin, banyak orang menganggap sebuah batasan hidup menjadi lebih besar hanya karena dua golongan, yang sebenarnya masing-masing memiliki ketergantungan.
Ini hidup yang kaya warna tanpa kita sadari bahwa miskin adalah anugerah terbesar dalam hidup dibandingkan hidup bergelimang harta. Dalam miskin kita bisa lebih mendekatkan diri dengan Tuhan dan terkadang memiliki rasa cemburu yang berlebihan. Kaya lebih dipandang orang menjadi patokan hidup, tapi sebenarnya kita tak sepenuhnya mengetahui dari mana mereka memperoleh harta. Terkadang, si Kaya sibuk memikirkan bagaimana menambah dan menyelamatkan hartanya.
Kaya akan selalu mencari miskin untuk memberikan sebagian hartanya sebagai pembersihan, dan miskin selalu mengharapkan kehadiran tangan suci si Kaya untuk membantu hidupnya menjadi lebih baik. Kaya dan miskin adalah suatu rantai dan akan selalu mengikat satu sama lain. Hidup hanya sekali, kita dilahirkan dalam keadaan miskin tanpa membawa harta.
Jangan pernah menyesali ketika miskin berada di lingkungan kita karena mereka adalah anugerah bagi Anda untuk tetap disebut Kaya dan selalu di sanjung si Miskin hingga lupa siapa Anda sebenarnya.
Untukmu, sekali dalam hidup untuk mengulurkan tangan kepada si Miskin agar tetap dirimu disebut si Kaya. Anda tak akan di sebut Kaya jika belum pernah ‘membantu’ si Miskin menjadi layak hidupnya, bahkan Anda akan disebut miskin dibalik harta yang tersimpan.
Inilah negara kita yang menyimpan banyak budaya dan beragam agama, tak sedikit dari kita yang memiliki hidup lebih dari cukup. Yang kaya sibuk menambah harta benda tanpa pernah membantu kehidupan si Miskin. Hidup bukan hanya ber-zakat, memberi sekarung beras di hari lebaran dan ber-infaq, atau Anda lebih senang agar tetap ‘dipandang’ di tengah-tengah lingkungan miskin?

Selasa, 07 Februari 2012

Malapetaka Swastanisasi Air Di Makassar

Pada bulan Juli 2011 lalu, warga Makassar tiba-tiba menjerit: harga air bersih mendadak naik hingga 100% lebih. Rakyat pun sangat terbebani dengan kenaikan mendadak dan sepihak itu.
“Dulunya, saya hanya membayar Rp30-40 ribu. Tetapi sekarang diharuskan membayar Rp90-100 ribu,” kata Firdaus, salah seorang warga yang juga aktivis Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI).
Situasi itu tak pelak begitu memukul rakyat Makassar. Mereka diharuskan mengeluarkan uang lebih besar untuk urusan air. Dan, jika tidak ada peningkatan pendapatan, maka itu berarti pengurangan pada pos belanja yang lain.
Dampak kenaikan juga dialami oleh lembaga publik. Sejumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Makassar mengeluhkan naiknya tariff air bersih. Katanya, tariff yang dulunya cuma Rp0,360 per liter naik menjadi Rp4,210 per liter. Artinya, kenaikannya mencapai 1108%.
Kenaikan saat ini barulah tahap pertama. Rencananya, kenaikan tariff ini akan berlangsung beberapa tahap hingga 2014. Tahap pertama dimulai pada Juli 2011 lalu dengan kenaikan 25%. Lalu, ada lagi kenaikan pada 2012 dengan 10%, dan kemudian kenaikan pada 2013 sebesar 15%.
Sebelumnya, pada tahun 2006, PDAM Makassar sudah pernah menaikkan tariff secara signifikan: dari Rp1000 menjadi Rp2750.
Bastian Lubis, yang saat itu menjadi Badan Pengawas PDAM, menganggap kenaikan itu sudah menutupi kebutuhan cost –recovery dan membayar utang kepada Jakarta (Menteri Keuangan, pen). Bahkan, kata Bastian, ada keuntungan Rp400 rupiah dalam setiap meter-kubik.
Tetapi, Walikota Makassar saat itu, Ilham Arief Siradjuddin, malah berfikiran untuk melakukan swastanisasi. Bastian Lubis saat itu menolak keras rencana Walikota tersebut. “Kita harus melihat untung-ruginya jika memaksakan privatisasi. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” kata Bastian.
Dalam hitungan Bastian saat itu, jika perusahaan plat merah ini bekerjasama dengan swasta, maka akan terjadi kekurangan dana sebesar Rp33 milyar. Karena kuatnya kritik, maka dibentuklah tim independen untuk menginvestigasi hal itu. Hasilnya: Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menganggap kerjasama tersebut berpotensi merugikan PDAM dalam 20 tahun kedepan dan membebani pelanggan dengan kenaikan tariff.
Tetapi Walikota dan Direksi tutup telinga. Pada tahun 2007, PDAM makasar tetap melakukan kerjasama dengan PT. Traya. Akhirnya, akibat kerjasama dengan pihak swasta tersebut, PDAM terus-menerus mengalami kerugian.
“PDAM sebenarnya mensubsidi pihak swasta (PT. Traya) sekitar Rp2,2 milyar pertahun,” kata Bastian Lubis.
Akhirnya, untuk menutupi kerugian itu dan sekaligus mensubsidi swasta, maka PDAM pun ngotot menaikkan tariff sebesar Rp3800/m3. “Inilah yang menjadi keresahan seluruh warga Makassar,” katanya.
>>>
Pengelolaan air di Makassar sudah diswastanisasi. Gagasan swastanisasi ini sebetulnya sudah muncul lama. Ilham Arief Siradjuddin, walikota Makassar saat ini, adalah orang yang paling “ngotot” melakukan swastanisasi ini.
Menurut Ilham, swastanisasi akan menguntungkan PDAM, meski akan terjadi kenaikan tarif air, khususnya bagi golongan konsumtif. Rencana ini akan dimulai dengan menswastakan semua instalasi pengolahan air (IPA).
Tetapi Ilham salah besar. Swastanisasi telah menyebabkan kenaikan tariff air PDAM secara gila-gilaan. Konon, tariff air bersih di Makassar termasuk tertinggi di Indonesia, bahkan dunia. Kata Bastian Lubis, tariff air di kota Makassar lebih tinggi dari tiga kota terbesar di Indonesia; Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
“Jika harga yang ditawarkan PT Palyja dianggap termahal di dunia, maka Makassar lebih mahal lagi,” ujar Bastian.
Cerita buruk mengenai dampak privatisasi air tidak hanya terjadi di Makassar. Kejadian buruk serupa juga dialami oleh kota-kota lain yang menjalankan privatisasi.
Di Jakarta, pemerintah mulai melakukan privatisasi air sejak tahun 1998. Alasannya: perbaikan kualitas layanan air bersih bagi warga. Karenanya, PDAM Jakarta lalu menandatangani kerjasama dengan dua perusahaan swasta: Suez Environnement (Perancis) dan Thames Water (Inggris). Kerjasama itu berlangsung hingga 2023 (25 tahun).
Dalam kerjasama itu tercantum hak swasta untuk mendapatkan bayaran atas jasanya menyediakan layanan air. Pembayaran tersebut dilakukan melalui sistem yang disebut imbalan air (water charge). Karena adanya pembayaran imbalan air ini, maka pelanggan air bersih di Jakarta pun dikenakan harga yang lebih tinggi.
Dalam prakteknya, imbalan air selalu naik setiap enam bulan sekali. Ini pula yang menyebabkan selalu ada tuntutan kenaikan tarif setiap enam bulan, supaya sejalan dengan kenaikan imbalan air.
Lalu, jika kita perhatikan kerjasama dengan pihak swasta itu, dampaknya pada perbaikan layanan dan perluasan jaringan belum juga berhasil. Hingga akhir tahun 2008, jumlah operator baru mencapai 63%, dan itu berarti masih ada 37% masyarakat DKI yang belum menikmati air bersih. Sementara laporan BPS Jakarta menyebutkan, layanan perpipaan air di Jakarta baru mencapai 24,18%. Hasil riset Kesehatan Dasar 2010 Kementerian Kesehatan menyebutkan, hanya 18,3 persen warga Jakarta yang memiliki sambungan air perpipaan terlindungi. Sedangkan, sekitar 90 persen lebih air tanah di Jakarta mengandung bakteri E-coli.
Manila juga punya kisah pilu dengan privatisasi air. Alih-alih memperbaiki manajemen dan kualitas layanan, privatisasi air di Manila justru membawa Ibukota Philipina itu dalam “jebakan utang” kepada lembaga keuangan internasional.
Sejak bekerjasama dengan pihak swasta, kualitas layanan air bersih di Makassar tidak juga membaik. Air PDAM tetap tidak bisa digunakan langsung untuk minum. Selain itu, berita mengenai tersendatnya air PAM tidak pernah berhenti.
Daripada menaikkan tariff, ada baiknya PDAM mengantisipasi berbagai kebocoran.  Kerugian PDAM Makassar akibat pencurian air maupun kebocoran pipa mencapai Rp191,01 miliar, dengan rata-rata kehilangan stok air sebanyak 160 kubik per hari.
Selain kebocoran pipa, kata Bastian, PDAM juga harus mengantisipasi soal kemungkinan banyaknya kebocoran uang, sehingga PDAM terus-menerus mengaku mengalami kerugian.
>>>
Kenaikan tariff air bersih di Makassar pun melahirkan perlawanan. Rakyat banyak pun mulai resah. Sebuah protes terpendam bisa memicu sebuah perlawanan berskala luas.
Gerakan perlawanan sudah dimulai oleh kaum miskin dari Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI). Organisasi rakyat ini sudah berkali-kali menggelar aksi protes, tapi belum mendapat respon pemerintah. “Rakyat miskin merupakan korban terparah dari kebijakan privatisasi ini. Mereka akan sangat terbebani. Tidak ada pilihan selain melakukan perlawanan,” kata Wahida, ketua SRMI Sulsel.
Partai Rakyat Demokratik (PRD) juga tidak tinggal diam. PRD, yang secara tegas bersikap anti-neoliberal, akan berada di garis depan untuk menolak kebijakan privatisasi air itu. “PRD bersama SRMI, LMND, FNPBI, dan Jaker akan melakukan perlawanan,” ujar Babra Kamal, ketua PRD Sulsel.
PRD sendiri sedang menggelorakan sebuah gerakan yang disebut “Gerakan Nasional Pasal 33″. Inti sari gerakan itu adalah pengembalian seluruh kekayaan alam dan cabang produksi ke tangan rakyat. Karenanya, gerakan ini pun akan melawan habis-habisan segala bentuk privatisasi, apalagi privatisasi perusahaan air minum.
Bastian juga berencana melakukan perlawanan. Mantan Badan Pengawas PDAM Makassar ini akan mengajukan class action. “Kami akan mengorganisir warga yang tidak setuju dengan kebijakan ini untuk melakukan class action,” katanya.
Partai Gerindra pun sudah mengeluarkan sikap tegas: menolak kenaikan tariff PDAM. Ahmad Bustanul, kader Gerindra di DPRD Kota Makassar, menganggap kebijakan itu akan sangat membebani rakyat banyak. “Sedikitnya 90% konsumen PDAM di Makassar adalah rumah tangga,” katanya.
  
Ulfa Ilyas
Ref ://Berdikari Online  

INGIN DOMAIN GRATIS 100% , -.COM-.NET-.ORG

INGIN DOMAIN GRATIS 100% , -.COM-.NET-.ORG
Syarat Cuman Menambahkan Teman/Pengguna (REFER FRIENDS) minimal 9 pengguna Max. 16 Pengguna.

Arsip Blog