Dalam masyarakat urban kontemporer, menjadi seorang perempuan yang
ideal haruslah memenuhi beberapa kriteria. Ideal disini memiliki makna
yang holistik atau melingkupi seluruh “area” yang ada dalam diri
perempuan, yakni ideal dalam aspek raga, intelektualitas, emosi serta
kelas sosial. Namun sering kita lihat dalam realitas, idealnya perempuan
hanya dilihat dari aspek ragawi saja, sedangkan aspek-aspek lainnya
cenderung diabaikan. Seakan-akan sudah ketetapn masyarakat soal
kriteria-kriteria untuk menjadi perempuan yang ideal, namun sekali lagi
kriteria tersebut lebih banyak menilai aspek ragawi perempuan.
Kriteria “perempuan ideal” tersebut diantaranya: memiliki rambut
hitam mengkilau yang lurus dan panjang terurai, berkulit putih dan
mulus, mempunyai tinggi tubuh yang ideal serta bertubuh langsing (slim).
Salah satu dari kriteria tersebut, yakni bertubuh langsing, akan
dibahas dalam tulisan ini.
Lalu muncul pertanyaan: apakah kategorisasi perempuan ideal nan
cantik tersebut memang murni terbentuk karena adanya konstruksi budaya
dalam masyarakat yang mengidealisasikan figur perempuan seperti
demikian? Atau, adakah “kuasa-kuasa” lain yang tak terlihat dan kemudian
men-setting pencitraan perempuan seperti itu dan kemudian menghegemoni pemikiran masyarakat dengan kekuasaan yang mereka miliki?
Image bahwa “perempuan bertubuh langsing itu cantik” sebenarnya bukan
konsep netral. Pencitraan itu dikonstruksi oleh suatu sistem budaya,
yang oleh kalangan intelektual cultural studies diistilahkan
sebagai budaya pop (pop culture) atau budaya massa (mass culture).
Budaya pop diartikan sebagai budaya komersial yang diproduksi secara
massal serta bertujuan meraih keuntungan (profit).
Kasiyan, dalam bukunya yang berjudul “Manipulasi dan Dehumanisasi
Perempuan dalam Iklan”, menjelaskan budaya pop atau budaya massa sebagai
produk budaya relatif terstandar dan homogen, seperti barang maupun
jasa serta pengalaman-pengalaman budaya yang berasosiasi dengannya yang
dirancang untuk merangsang kelompok terbesar (massa) dari populasi
masyarakat (2008:169).
Para produsen budaya pop yang menjadikan tubuh perempuan sebagai
sasaran pemasaran produk-produknya kemudian mereproduksi imaji-imaji
tentang sosok perempuan cantik yang ideal melalui iklan-iklannya, yang
salah satu imaji tersebut ialah “perempuan cantik itu bertubuh langsing”
atau “slim is beautiful”.
Produk-produk budaya pop yang membidik konsumen perempuan diantaranya
ialah produk bisnis fashion, medicine, hiburan serta audio visual
(film, majalah dan tabloid). Produk-produk ini membentuk image
tentang perempuan ideal yang kemudian dipropagandakan melalui iklan yang
dimuat dalam media massa, baik cetak maupun elektronik. Iklan-iklan
tersebut juga “menggempur” masyarakat di area-area publik, seperti jalan
raya, melalui reklame-reklame dan papan billboard.
Dalam konteks “slim is beautiful” bagi perempuan, image ini dibentuk oleh para produsen obat diet atau pelangsing tubuh serta designer
dalam dunia mode. Para produsen obat diet, baik itu berbentuk pil,
makanan suplemen, serta produk susu (semacam WRP), berusaha
mempropagandakan tubuh ideal bagi seorang perempuan: tubuh langsing
tetapi terlihat seksi. Melalui iklan dalam media massa lah hegemoni
pemikiran ini dilakukan. Iklan merupakan faktor terpenting dalam usaha
menggaet kelompok konsumen perempuan agar tergiur mengonsumsi produk
yang dipasarkan.
Oleh produsen produk pelangsing tubuh tersebut, tubuh perempuan
dikonsepsikan sebagai anugerah yang harus dirawat dan dijaga
“keindahannya” dengan tidak membuat berat atau bobotnya di atas
kewajaran. Dengan menjaga kelangsingan tubuhnya, maka seorang perempuan
akan lebih diperhatikan dan diminati laki-laki. Kaum perempuan telah
dibius, lalu dimasukkan ke dalam kuasa pengetahuan, bahwa mereka akan
lebih dihargai dan diperhatikan laki-laki ketika mereka mampu
mempertahankan kelangsingan tubuhnya.
Berbasiskan realita dalam iklan yang menampilkan kaum perempuan,
Dr.Thamrin Amal Tomagola, seorang Sosiolog UI, menemukan lima citra
perempuan dalam iklan. Salah satu citra perempuan tersebut adalah citra
pigura, yakni pendeskripsian bahwa perempuan harus tampil memikat. Ia
sebagai mahluk cantik harus menjaga kecantikannya dengan melakukan diet,
minum suplemen dan melakukan segala sesuatu untuk mencegah berat
badannya naik. Citra ini sangat lekat dengan iklan produk diet semacam
vitamin diet, susu WRP, gula yang rendah kolesterol, dan promosi
pusat-pusat kebugaran tubuh atau fitness centre.
Maka dapat disimpulkan bahwa pandangan masyarakat yang
mengasosiasikan sosok perempuan cantik dengan kelangsingan tubuh
mmerupakan hasil dari reproduksi ideologis yang dilakukan oleh
kuasa-kuasa ekonomi yang bersembunyi di balik ‘jubah’ budaya pop.
Melalui kekuasaannya atas media massa, kaum kapitalis yang memproduksi
barang dan jasa guna menyokong imajinasi “slim is beautiful” tersebut
mengendalikan pola pikir dan perilaku (behaviour) massa dan kemudian
merekonstruksi konsep kecantikan dalam masyarakat. Hal ini amat penting
dilakukan demi kesinambungan hidup kapitalis produk kecantikan, karena
yang mampu menyelamatkan mereka—dalam konteks menghasilkan laba yang
sebesar-besarnya—hanyalah konsumsi publik (kaum perempuan). Sebab,
seperti yang dikatakan oleh Ariel Heryanto, seorang pakar budaya pop,
“tanpa konsumerisme, maka kapitalisme akan mati”.
HISKI DARMAYANA
Penulis adalah alumnus antropologi Universitad Padjajaran (Unpand) dan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang.
Ref ://Berdikari Online
Tampilkan postingan dengan label Sisi Lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sisi Lain. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 Februari 2012
Senin, 06 Februari 2012
Bung Karno Dan Kenangan Di Ende
Bung Karno dan Ende tidak bisa dipisahkan. Ya, pemimpin revolusi
Indonesia itu pernah “dibuang” 5 tahun di pulau tersebut. Tepatnya, dari
1934 hingga 1938. Kenangan tentang Bung Karno juga masih membekas di
pulau itu.
Saat dibuang ke pulau bunga itu, jumlah penduduknya baru 5000-an orang. Sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Sisanya adalah petani kelapa dan petani bisa. Jumlah pegawai bisa dihitung jari.
Bung Karno dan keluarganya di tempatkan di sebuah kampung bernama Ambugaga. Di kampung yang cukup terpencil itu, Bung Karno menempati sebuah rumah sederhana berukuran sekitar 12 X 9 meter. Rumah itu hanya memiliki dua kamar tidur.
Baru sampai di Ende, Bung Karno kehilangan mertuanya. Ibu Amsi–nama mertuanya– meninggal di pangkuan Bung Karno. Di tengah keterasingan, juga belum akrab dengan orang-orang sekitar, Bung Karno sendiri yang mengantar mertuanya itu ke kuburan dan menguburkannya.
Awalnya, Bung Karno adalah manusia asing di pulau itu. Karena provokasi Belanda, banyak penduduk setempat yang takut mendekati Bung Karno. Bagi Bung Karno, terasing di tengah massa adalah hukuman terberat baginya.
Tetapi Bung Karno bukan tipe orang yang mudah patah semangat. Ia segera menyadari bahwa kawannya adalah rakyat jelata. Bung Karno membentuk masyarakatnya sendiri, dengan para pemetik kelapa, sopir, dan pemuda menganggur. Orang pertama yang dikenal Bung Karno adalah seorang nelayan bernama Kota.
Bung Karno mengajak Kota kerumahnya. Tapi Kota tak datang sendiri, tapi mengajak temannya, Darham, seorang tukang jahit. Setelah dikunjungi, Bung Karno pun membalas kunjungan dua kawan barunya itu.
Di Ende, untuk membunuh rasa sepi setiap harinya, Bung Karno menulis sandiwara. Ada 12 judul sandiwara yang dibuatnya dari tahun 1934 hingga 1938. Karya pertamanya, Dokter Setan, terinspirasi oleh Frankenstein. Karyanya yang lain adalah Rendo, Rahasia Kelimutu, Jula Gubi, KutKutbi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero Dinamit, Nggera Ende, Amoek, Rahasia Kelimutu II, Sang Hai Rumba, dan 1945.
Selain itu, untuk mementaskan karyanya, ia membentuk kelompok sandiwara bernama “Kalimutu”, nama danau dengan warna indah di Flores. Bung Karno menjadi sutradaranya. Para pemainnya adalah penduduk dan anak-anak setempat, yang terkadang belum bisa berbahasa Indonesia.
Setiap malam, di bawah pohong kayu, ditemani sinar rembulan, kelompok sandiwara asuhan Bung Karno ini berlatih. Sebagian besar anggotanya adalah laki-laki. Maklum, selain terkungkung oleh aturan, sebagian perempuan itu takut dengan Bung Karno. Karena, hampir tidak ada lakon perempuan dalam sandiwaranya. Kalaupun ada lakon perempuan, maka itu dimainkan oleh laki-laki.
Untuk tempat pentas, Bung Karno menyewa sebuah gudang gereja. Karcis untuk pementasan dijual sendiri oleh Bung Karno. Setiap pementasan membutuhkan waktu tiga hari dan dihadiri 500-an penonton. Orang-orang belanda pun terkadang beli karcis dan ikut menonton pementasan.
Untuk keperluan dekorasi panggung, Bung Karno membuatnya sendiri. Ia kadang melukis gambar hutan atau istana sebagai latar-panggung. Ia pula yang membuat iklan-iklan pentas dengan menggunakan kertas.
Setiap selesai pementasan, Bung Karno membawa anggota “kru”-nya untuk makan bersama di rumahnya. Semua itu demi menyenangkan anggotanya. Keuntungan dari sandiwara ini dipakai untuk menopang kehidupan sehari-hari.
Dari pementasan inilah Bung Karno berkenalan dengan Riwu Ga, seorang pemuda Ende berusia 14 tahun, yang rela berjalan kaki 3 kilometer hanya untuk menonton pertunjukan Bung Karno. Dengan membawa pisang, Riwu Ga bertanya kepada Soekarno tentang cara memotong kayu.
Riwu Ga punya jasa besar saat proklamasi kemerdekaan di Jakarta. Bung Karno menugaskan Riwu Ga dan Sarwoko untuk mengabarkan kemerdekaan kepada rakyat Indonesia di Jakarta. “Wo, kini giliran angalai (anda). Sebarkan pada penduduk Jakarta bahwa kita sudah merdeka. Bawa bendera!” kata Bung Karno. Dari Pegangsaan Timur, Riwu Ga bersaman Sarwoko sambil menumpangi jip terbuka bergerak ke Tanah Abang, Pasar Baru, Jatinegara, Pasar Ikan…..dan seluruh sudut Jakarta. Ia berteriak: Indonesia sudah merdeka!”
Bung Karno juga berkawan akrab dengan kelasi-kelasi kapal, khususnya yang orang-orang Indonesia. Hampir semua kelasi-kelasi itu bersimpati pada perjuangannya. Suatu hari, ketika Bung Karno membutuhkan kelambu, maka kelasi menyelundupkan satu kelambu untuknya.
Suatu hari, seorang stokar kapal mengajak Bung Karno “melarikan diri”. “Bung, katakanlah kepada kami,” kata stokar itu, “kami akan menyelundupkan Bung Karno dan tidak akan ada yang tahu.”
Bung Karno menolak dengan sopan ajakan berharga itu. Menurutnya, melarikan diri adalah tindakan sia-sia bagi seorang yang terbiasa bekerja legal. Kalaupun berhasil melarikan diri, Bung Karno tentu gampang diciduk. Maklum, setiap ia tampil di tengah pergerakan, maka pihak kolonial akan segera menangkapnya.
Bung Karno berfikiran, jika dirinya tetap bertahan di pengasingan, setidaknya kaum marhaen tahu bagaimana pemimpinnya menderita demi cita-cita. Ia rela menjadi lambang dari pengorbanan rakyat untuk kemerdekaan.
Selama pembuangan di Ende, Bung Karno sering menerima kiriman makanan, pakaian, dan uang dari kawan-kawanya di Jawa. Tapi, Bung Karno tidak memakai semua kiriman-kiriman itu. Sebagian besar kiriman itu dikirimkan kembali ke kawan-kawannya yang lebih menderita di Digul, Papua. Bung Karno adalah seorang pemimpin yang tak pernah surut semangat perkawanannya.
Begitulah, Ende yang semula dianggap penjara bagi Bung Karno, justru menjadi “rumah pergerakan” Bung Karno. Ende sangat melekat di hati Bung Karno. Karenanya, lima tahun setelah Indonesia merdeka, tepatnya 1950, Bung Karno menyempatkan diri untuk bernostalgia di Ende.
IRA KUSUMAH
Ref : Berdikari Online
Saat dibuang ke pulau bunga itu, jumlah penduduknya baru 5000-an orang. Sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Sisanya adalah petani kelapa dan petani bisa. Jumlah pegawai bisa dihitung jari.
Bung Karno dan keluarganya di tempatkan di sebuah kampung bernama Ambugaga. Di kampung yang cukup terpencil itu, Bung Karno menempati sebuah rumah sederhana berukuran sekitar 12 X 9 meter. Rumah itu hanya memiliki dua kamar tidur.
Baru sampai di Ende, Bung Karno kehilangan mertuanya. Ibu Amsi–nama mertuanya– meninggal di pangkuan Bung Karno. Di tengah keterasingan, juga belum akrab dengan orang-orang sekitar, Bung Karno sendiri yang mengantar mertuanya itu ke kuburan dan menguburkannya.
Awalnya, Bung Karno adalah manusia asing di pulau itu. Karena provokasi Belanda, banyak penduduk setempat yang takut mendekati Bung Karno. Bagi Bung Karno, terasing di tengah massa adalah hukuman terberat baginya.
Tetapi Bung Karno bukan tipe orang yang mudah patah semangat. Ia segera menyadari bahwa kawannya adalah rakyat jelata. Bung Karno membentuk masyarakatnya sendiri, dengan para pemetik kelapa, sopir, dan pemuda menganggur. Orang pertama yang dikenal Bung Karno adalah seorang nelayan bernama Kota.
Bung Karno mengajak Kota kerumahnya. Tapi Kota tak datang sendiri, tapi mengajak temannya, Darham, seorang tukang jahit. Setelah dikunjungi, Bung Karno pun membalas kunjungan dua kawan barunya itu.
Di Ende, untuk membunuh rasa sepi setiap harinya, Bung Karno menulis sandiwara. Ada 12 judul sandiwara yang dibuatnya dari tahun 1934 hingga 1938. Karya pertamanya, Dokter Setan, terinspirasi oleh Frankenstein. Karyanya yang lain adalah Rendo, Rahasia Kelimutu, Jula Gubi, KutKutbi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero Dinamit, Nggera Ende, Amoek, Rahasia Kelimutu II, Sang Hai Rumba, dan 1945.
Selain itu, untuk mementaskan karyanya, ia membentuk kelompok sandiwara bernama “Kalimutu”, nama danau dengan warna indah di Flores. Bung Karno menjadi sutradaranya. Para pemainnya adalah penduduk dan anak-anak setempat, yang terkadang belum bisa berbahasa Indonesia.
Setiap malam, di bawah pohong kayu, ditemani sinar rembulan, kelompok sandiwara asuhan Bung Karno ini berlatih. Sebagian besar anggotanya adalah laki-laki. Maklum, selain terkungkung oleh aturan, sebagian perempuan itu takut dengan Bung Karno. Karena, hampir tidak ada lakon perempuan dalam sandiwaranya. Kalaupun ada lakon perempuan, maka itu dimainkan oleh laki-laki.
Untuk tempat pentas, Bung Karno menyewa sebuah gudang gereja. Karcis untuk pementasan dijual sendiri oleh Bung Karno. Setiap pementasan membutuhkan waktu tiga hari dan dihadiri 500-an penonton. Orang-orang belanda pun terkadang beli karcis dan ikut menonton pementasan.
Untuk keperluan dekorasi panggung, Bung Karno membuatnya sendiri. Ia kadang melukis gambar hutan atau istana sebagai latar-panggung. Ia pula yang membuat iklan-iklan pentas dengan menggunakan kertas.
Setiap selesai pementasan, Bung Karno membawa anggota “kru”-nya untuk makan bersama di rumahnya. Semua itu demi menyenangkan anggotanya. Keuntungan dari sandiwara ini dipakai untuk menopang kehidupan sehari-hari.
Dari pementasan inilah Bung Karno berkenalan dengan Riwu Ga, seorang pemuda Ende berusia 14 tahun, yang rela berjalan kaki 3 kilometer hanya untuk menonton pertunjukan Bung Karno. Dengan membawa pisang, Riwu Ga bertanya kepada Soekarno tentang cara memotong kayu.
Riwu Ga punya jasa besar saat proklamasi kemerdekaan di Jakarta. Bung Karno menugaskan Riwu Ga dan Sarwoko untuk mengabarkan kemerdekaan kepada rakyat Indonesia di Jakarta. “Wo, kini giliran angalai (anda). Sebarkan pada penduduk Jakarta bahwa kita sudah merdeka. Bawa bendera!” kata Bung Karno. Dari Pegangsaan Timur, Riwu Ga bersaman Sarwoko sambil menumpangi jip terbuka bergerak ke Tanah Abang, Pasar Baru, Jatinegara, Pasar Ikan…..dan seluruh sudut Jakarta. Ia berteriak: Indonesia sudah merdeka!”
Bung Karno juga berkawan akrab dengan kelasi-kelasi kapal, khususnya yang orang-orang Indonesia. Hampir semua kelasi-kelasi itu bersimpati pada perjuangannya. Suatu hari, ketika Bung Karno membutuhkan kelambu, maka kelasi menyelundupkan satu kelambu untuknya.
Suatu hari, seorang stokar kapal mengajak Bung Karno “melarikan diri”. “Bung, katakanlah kepada kami,” kata stokar itu, “kami akan menyelundupkan Bung Karno dan tidak akan ada yang tahu.”
Bung Karno menolak dengan sopan ajakan berharga itu. Menurutnya, melarikan diri adalah tindakan sia-sia bagi seorang yang terbiasa bekerja legal. Kalaupun berhasil melarikan diri, Bung Karno tentu gampang diciduk. Maklum, setiap ia tampil di tengah pergerakan, maka pihak kolonial akan segera menangkapnya.
Bung Karno berfikiran, jika dirinya tetap bertahan di pengasingan, setidaknya kaum marhaen tahu bagaimana pemimpinnya menderita demi cita-cita. Ia rela menjadi lambang dari pengorbanan rakyat untuk kemerdekaan.
Selama pembuangan di Ende, Bung Karno sering menerima kiriman makanan, pakaian, dan uang dari kawan-kawanya di Jawa. Tapi, Bung Karno tidak memakai semua kiriman-kiriman itu. Sebagian besar kiriman itu dikirimkan kembali ke kawan-kawannya yang lebih menderita di Digul, Papua. Bung Karno adalah seorang pemimpin yang tak pernah surut semangat perkawanannya.
Begitulah, Ende yang semula dianggap penjara bagi Bung Karno, justru menjadi “rumah pergerakan” Bung Karno. Ende sangat melekat di hati Bung Karno. Karenanya, lima tahun setelah Indonesia merdeka, tepatnya 1950, Bung Karno menyempatkan diri untuk bernostalgia di Ende.
IRA KUSUMAH
Ref : Berdikari Online
Nicolas Maduro, Sopir Bus Jadi Menteri Luar Negeri
Revolusi bisa mengubah segala-galanya. Sebelum Evo Morales menjadi Presiden, parlemen Bolivia banyak diisi oleh orang berdasi dan bergelar. Sekarang, sebagian besar anggota parlemen adalah petani pengunyah daun koka.
Hal semacam itu terjadi juga di Venezuela. Nicolas Maduro, menteri luar negeri Venezuela saat ini, pernah menjadi sopir bus di kota Caracas. Ia lahir di kota Caracas, Ibukota Venezuela, pada 23 November 1962. Profesi pernah jadi “sopir bus” ini sering jadi ejekan media mainstream di barat. Mereka meremehkan kualitas dan kapasitas Nicolas Maduro. Tetapi ejekan itu terbukti salah total. Dan, Maduro termasuk menteri terbaik Hugo Chavez.
Maduro pernah menjadi aktivis mahasiswa tahun 1970-an hingga 1980an. Setelah itu, ia mulai berkecimpung dalam gerakan buruh. Saat itulah ia menjadi seorang sopir bus dan sekaligus mengorganisir serikat buruh.
Saat itu, krisis neoliberal sedang parah-parahnya di Venezuela. Pada 28 April 1989, meletus peristiwa terkenal “El Caracazao”, sebuah pemberontakan rakyat yang disulut oleh kenaikan harga bahan bakar minyak. Nicolas Maduro bagian dari gerakan rakyat itu.
Sejak tahun 1980an, Caracas sudah mengenal rapid transit system, atau sering disebut “Metro Caracas”. Sistem ini digerakkan oleh dua model transportasi utama: Subway dan Metrobus. Kedua-duanya pernah dijalani oleh Nicolas Maduro.
Maduro adalah pendiri Serikat Pekerja Subway pertama di Caracas. Sekarang, serikat pekerja subway adalah pendukung UNT (gabungan serikat buruh yang mendukung revolusi Bolivarian).
Ia menjadi bagian dari Pergerakan Bolivarian Revolusioner (MBR-200). MBR-200 adalah organisasi politik yang dibentuk oleh Chavez pada tahun 1982. Pada tahun 1994, Maduro sudah menjadi biro nasional MBR-200. Ia menyertai kampanye MBR-200 dalam jajak-pendapat untuk mengetahui apakah rakyat menyetujui Chavez sebagai presiden.
Saat itu, Maduro tetap menjadi bagian dari gerakan buruh. Ia termasuk salah satu pendiri Angkatan Pekerja Bolivarian (FSBT). Ia juga sempat menjadi koordinator nasional dari serikat buruh ini.
Pada tahun 1997, seusai melakukan jajak pendapat dan berkampanye ke seluruh negeri, para aktivis MBR-200 sepakat membentuk mesin electoral: Pergerakan Republik Kelima (MVR). Ia aktif berjuang bersama MVR dalam memenangkan Chavez dalam pemilu 1998.
Dalam pemilu 1998 itu, Maduro terpilih dari kendaraan MVR sebagai anggota senat. Ia juga pernah menjadi anggota Majelis Konstituante pada tahun 1999, lalu menjadi anggota Majelis Nasional pada tahun 2001. Ia ditunjuk sebagai koordinator grup progressif di Majelis Nasional. Pada tahun 2006, ia dipercaya menjadi presiden Majelis Nasional.
Pada Agustus 2006, Presiden Hugo Chavez menunjuk Maduro sebagai Menteri Luar Negeri Republik Bolivarian Venezuela. Sejak itu, namanya pun melejit sebagai diplomat ulung di forum-forum regional maupun internasional.
Ia adalah terbilang politisi muda di jabatan itu. Begitu menempati jabatannya, ia berjanji akan mengubah kementerian luar negeri Venezuela menjadi “Kementerian luar negeri anti-imperialis”. Meski begitu, ia tidak memaksa karyawannya di Kemenlu untuk mengikuti atau menjadi pengikut partai tertentu.
Pada tahun 2006 itu pula, Maduro mendampingi Chavez saat menghadiri pertemuan Majelis Umum PBB ke-61 di New York, Amerika Serikat. Di tempat itu, Chavez mengecam nafsu imperialistis AS dan menyebut Bush sebagai “iblis”.
Pada saat itu juga terjadi insiden di bandara internasional John F Kennedy di New York. Petugas bandara menahan Nicolas Maduro selama 1,5 jam di bandara. “Mereka kira-kira menyerang saya dan memborgol saya,” kata Maduro saat menceritakan kejadian itu. AS pun harus meminta maaf atas kejadian memalukan itu.
Pada tahun 2009 lalu, Maduro juga terlihat sangat garang ketika mengusir dubes dan diplomat Israel keluar Venezuela. Tindakan Venezuela itu merupakan bentuk kecaman negara sosialis itu atas serangan Israel ke jalur gaza. Hanya Venezuela, Bolivia, dan sejumlah negara amerika latin yang melakukan itu, tapi tak satupun negara islam dan arab yang melakukanya.
Ketika Chavez menjalani perawatan kanker, Maduro dipercaya menggantikan Chavez dalam berbagai pertemuan penting internasional. Tak heran, sejumlah media mainstream di barat berusaha memunculkan rumor, bahwa Maduro adalah “salah satu calon pengganti Chavez”. Tapi, itu hanya rumor belaka. Chavez sendiri sudah pasti akan maju kembali sebagai kandidat dalam pemilu 2012 mendatang.
Di Indonesia, ada juga sopir angkot yang jadi menteri. Ya, konon Patrialis Akbar, yang pernah menjadi Menteri Hukum dan HAM, pernah menjadi sopir angkot jurusan Senen-Jatinegara. Ia juga sempat menjadi sopir taksi di Jakarta.
KUSNO
Ref : Berdikari Online
Langganan:
Postingan (Atom)
INGIN DOMAIN GRATIS 100% , -.COM-.NET-.ORG
Arsip Blog
-
▼
2012
(53)
-
▼
Februari
(53)
- Ketika Sandal Tak Lagi Diperlukan
- Mulut Mu, Laboratorium Ku
- Jika Negara Tanpa Trotoar
- Membuang Cat Di Atas Aspal
- Keselamatan Pengendara Bergantung Pada Iklan
- Lahan Parkir Gratis, Stok Terbatas!
- Bencana Banjir Dan Pentingnya Kanal
- Berbagi Sarapan Sampah, Mau-?….
- Pemakaman, Tak Jauh Beda Dengan TPS
- Buanglah Sampah Seenaknya
- Anak Jalanan Aset Negara-?
- Bangsaku Bukan Pemalas Melainkan Pekerja Keras
- Kaya Dan Miskin
- Miskin Dan Becak Tua
- Tidak akan ada lagi Sebutan “ANAK HARAM”
- Presiden RI telah melanggar UUD 1945, terkait peng...
- Orang Bijak Mengatakan "Mundur Lebih Baik dari pad...
- Kesucian Terusik Batu yang Menangis
- Rakyat Butuh Pemimpin Tegas Bukan Bergaya Militer
- Desakan Pembubaran Front Pembela Islam (FPI)
- Ujar Habib Selon : Silakan Hukum Anggota Ane, FPI ...
- Alasan Mengapa Polri Menerima Duit dari Freeport?
- Rasa Keadilan yang Hilang ditanah Papua
- Jangan 'Beli Kucing dalam Karung' di Pilpres 2014
- SBY Sentil Amerika
- Manipulator Keuangan Dunia_"AS Tidak Takut dengan ...
- Pembatasan BBM Bersubsidi "Menghemat dana APBN"
- Mendagri - Bikin Ormas Seperti Bikin Martabak Telor
- Rakyat Miskin Tanggung utang senilai Rp. 7,5 Juta ...
- SRMI Makassar Tolak Ruislag SD Gaddong
- Malapetaka Swastanisasi Air Di Makassar
- Merdeka Di Mata Rakyat
- Kenapa Perlu Mendukung Gerakan Pasal 33
- Tinggalkan Neoliberalisme, Kembali Ke Pasal 33 UUD...
- Krisis Kapitalisme Dan Dampaknya Di Indonesia
- Tentang ‘Gerakan Pasal 33’
- Makna “Dikuasai Oleh Negara” Dalam Pasal 33 UUD 1945
- Filosofi Pasal 33 UUD 1945 Menurut Pendiri Bangsa
- Pasal 33 UUD 1945 Sebagai Solusi Krisis Kapitalism...
- “Slim Is Beautiful”: Antara Konstruksi Budaya Dan ...
- Cerpen: Lelaki Tua dan Becaknya
- Cerita Seorang Perempuan Tua
- Perempuan Perlu Membangun Organisasi Massa
- Bung Karno Dan Gerakan Wanita
- Bung Karno Dan Kenangan Di Ende
- Dunia Maya Dan Gerakan Sosial Anti-Korupsi
- Tari Adinda: Musikku Adalah Suara Kaum Tertindas
- Nicolas Maduro, Sopir Bus Jadi Menteri Luar Negeri
- Soal Mutu Pendidikan Nasional
- Bung Karno Dan Empat Strategi Melawan Imperialisme
- Kenaikan Tarif Dasar Listrik dan Liberalisasi Sekt...
- Gerakan Konstitusional Merebut Hak-Hak Dasar
- Otonomi Daerah Dan Neoliberalisme
-
▼
Februari
(53)

